Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan perasaan orang lain. Dalam kehidupan sosial, empati menjadi dasar dari perilaku baik seperti menolong, berbagi, dan menghargai perbedaan. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa belajar empati sejak dini. Bahkan, menumbuhkan empati sejak masa kanak-kanak sangat penting untuk membentuk kepribadian yang penuh kasih, peduli, dan bertanggung jawab.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, anak-anak perlu dibekali kemampuan sosial yang kuat. Salah satunya adalah empati. Anak yang memiliki empati cenderung lebih mudah menjalin pertemanan, menyelesaikan konflik secara damai, dan tumbuh menjadi individu yang peduli terhadap sesama.

Apa Itu Empati?
Empati berbeda dengan simpati. Simpati hanya sebatas merasa kasihan terhadap orang lain, sedangkan empati berarti benar-benar bisa membayangkan dan merasakan apa yang orang lain alami. Misalnya, saat temannya jatuh, anak yang berempati tidak hanya berkata “kasihan”, tetapi juga menunjukkan kepedulian seperti membantu atau menenangkan temannya.
Kemampuan ini bukan bawaan lahir semata. Empati perlu diajarkan, dicontohkan, dan dilatih secara konsisten dalam keseharian anak.
Kapan Anak Mulai Belajar Empati?
Penelitian menunjukkan bahwa benih empati bisa muncul sejak bayi. Bayi bisa menangis ketika mendengar tangisan bayi lain — ini disebut “empati emosional awal”. Namun, empati yang utuh, di mana anak bisa memahami perspektif orang lain dan merespons dengan cara yang tepat, baru mulai berkembang antara usia 2 hingga 6 tahun.
Pada usia balita, anak mulai menyadari bahwa orang lain memiliki perasaan berbeda dari dirinya. Inilah momen penting untuk menanamkan nilai-nilai empati dalam keseharian anak.
Manfaat Mengajarkan Empati pada Anak
Menumbuhkan empati sejak dini memberikan banyak manfaat jangka panjang, antara lain:
- Anak lebih mudah menjalin hubungan sosial yang sehat
- Memiliki kepekaan terhadap orang lain
- Lebih toleran dan menghargai perbedaan
- Mampu menyelesaikan konflik secara positif
- Membangun karakter moral yang kuat
- Mencegah perilaku agresif atau perundungan (bullying)
Empati juga menjadi salah satu aspek penting dalam kecerdasan emosional (EQ) yang berperan besar dalam kesuksesan anak di masa depan.
Peran Orang Tua dalam Parenting Modern: Kunci Tumbuh Kembang Anak
Cara Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak Sejak Dini
Berikut adalah beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan orang tua dan pengasuh untuk menanamkan empati sejak anak usia dini:
- Menjadi Contoh Nyata
Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, jadilah contoh yang baik dalam menunjukkan empati kepada orang lain. Misalnya:
- Menyapa tetangga dengan ramah
- Menolong orang yang kesulitan
- Mendengarkan cerita anak dengan penuh perhatian
- Menunjukkan perhatian saat anggota keluarga sedang sedih atau sakit
Anak yang melihat empati dalam keseharian akan lebih mudah menirunya.
- Ajarkan Anak Mengenali dan Menamai Emosi
Empati tidak bisa tumbuh tanpa pemahaman emosi. Anak perlu tahu apa itu “sedih”, “marah”, “kecewa”, atau “senang”.
Tipsnya:
- Gunakan buku cerita atau gambar wajah untuk mengenalkan berbagai ekspresi emosi
- Tanyakan kepada anak, “Menurut kamu, dia sedang merasa apa?”
- Ajak anak mengenali emosinya sendiri: “Kamu kesal ya karena mainannya diambil?”
Dengan mengenali perasaan sendiri dan orang lain, anak lebih mudah memahami dan merespons emosi tersebut dengan bijak.
- Dorong Anak untuk Berbagi dan Menolong
Ajarkan anak untuk berbagi mainan, makanan, atau membantu teman yang kesulitan. Mulailah dari hal kecil, seperti:
- Meminta anak menawarkan makanan pada adik
- Mengajak anak menyumbangkan mainan yang sudah tidak terpakai
- Memberi kesempatan anak menolong merapikan barang
Berikan pujian saat anak menunjukkan empati: “Ibu senang kamu mau bantu temanmu tadi.”
- Gunakan Cerita dan Dongeng untuk Mengembangkan Empati
Cerita anak-anak penuh dengan tokoh yang mengalami berbagai emosi. Ajak anak berdiskusi:
- “Apa yang kamu rasakan kalau jadi tokoh ini?”
- “Kalau kamu yang mengalami itu, kamu akan bagaimana?”
Cara ini tidak hanya memperkaya imajinasi anak, tapi juga melatih mereka memahami perasaan orang lain dari berbagai sudut pandang.
- Latih Anak Menggunakan Kata-Kata Empatik
Ajarkan anak mengucapkan kalimat yang menunjukkan kepedulian, seperti:
- “Kamu nggak apa-apa?”
- “Aku bisa bantu nggak?”
- “Maaf ya, aku bikin kamu sedih.”
Berikan contoh dalam percakapan sehari-hari agar anak terbiasa mengungkapkan empati dengan kata-kata yang sederhana.
- Ciptakan Lingkungan yang Menghargai Perasaan
Jangan meremehkan atau menertawakan perasaan anak. Ketika anak merasa sedih, marah, atau kecewa, validasi perasaannya. Misalnya:
- “Ibu ngerti kamu sedih karena mainannya rusak.”
- “Wajar kok kalau kamu kesal karena kalah main.”
Ketika anak merasa dimengerti, ia pun belajar untuk memahami orang lain.
Tantangan dalam Mengembangkan Empati Anak
Mengajarkan empati bukan proses instan. Anak-anak butuh waktu, contoh nyata, dan banyak pengulangan. Beberapa tantangan yang sering dihadapi:
- Ego sentris alami pada balita
Anak usia dini masih cenderung fokus pada dirinya sendiri. Ini normal dan akan berkembang seiring usia. - Lingkungan yang tidak mendukung
Jika anak sering melihat kekerasan, ejekan, atau perilaku cuek di sekitarnya, ia sulit belajar empati. - Kurangnya komunikasi dua arah
Anak yang jarang diajak berdiskusi atau didengarkan cenderung tidak peka terhadap perasaan orang lain.
Solusinya adalah dengan menciptakan lingkungan yang penuh kasih, terbuka, dan memberi ruang anak untuk berekspresi serta belajar dari kesalahan.
Kesimpulan
Empati adalah bekal penting bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang peduli, beradab, dan mampu hidup harmonis dengan orang lain. Menumbuhkan rasa empati sejak dini tidak memerlukan metode rumit — cukup dengan kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang hangat.
Orang tua adalah guru pertama dalam hidup anak. Tunjukkan bahwa peduli pada orang lain itu penting dan menyenangkan. Ingatlah, empati bukan hanya mengubah perilaku anak, tetapi juga berkontribusi membentuk dunia yang lebih baik.




