Salah satu tantangan umum dalam dunia parenting adalah anak yang sulit makan. Orang tua sering kali merasa frustrasi ketika si kecil menolak makan, hanya memilih makanan tertentu, atau cepat merasa kenyang. Tapi tahukah Anda, kebiasaan makan anak tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan dan pola asuh, tapi juga bisa dipengaruhi oleh faktor genetik atau DNA?
Artikel ini akan mengupas hubungan antara DNA dan pola makan anak, serta memberikan tips praktis dan solusi holistik untuk mengatasi anak yang susah makan.

Apa Benar DNA Bisa Mempengaruhi Nafsu Makan Anak?
Jawabannya: ya, bisa.
Penelitian di bidang nutrigenomik (ilmu yang mempelajari hubungan antara gen dan nutrisi) menemukan bahwa beberapa anak secara alami memiliki kecenderungan makan lebih sedikit, lebih cepat kenyang, atau sensitif terhadap rasa tertentu. Hal ini dipengaruhi oleh variasi genetik tertentu, seperti:
-
Gen FTO: Beberapa varian gen ini dapat mengatur rasa lapar dan kenyang. Anak dengan varian tertentu mungkin memiliki sinyal kenyang yang lebih cepat.
-
Gen MC4R: Berperan dalam regulasi energi dan nafsu makan. Mutasi gen ini bisa membuat anak lebih sensitif terhadap rasa kenyang atau kurang tertarik terhadap makanan.
-
Gen TAS2R38: Gen ini memengaruhi kemampuan merasakan rasa pahit. Anak yang mewarisi varian sensitif dari orang tuanya cenderung menolak sayuran hijau karena terasa pahit, seperti brokoli atau bayam.
Artinya, jika Anda atau pasangan Anda dulu juga dikenal sebagai “pemilih makanan” atau “makannya sedikit” waktu kecil, besar kemungkinan anak Anda mewarisi sifat yang sama.
Gejala Anak Sulit Makan yang Dipengaruhi Faktor Genetik
Berikut beberapa ciri anak yang mungkin memiliki faktor genetik sebagai penyebab nafsu makan rendah:
-
Cepat kenyang bahkan dengan porsi kecil
-
Sangat selektif terhadap rasa, aroma, atau tekstur makanan
-
Tidak tertarik mencoba makanan baru
-
Sering lebih suka makanan manis atau hambar
-
Tidak menunjukkan tanda lapar meskipun sudah lama tidak makan
Meski penyebabnya bisa genetik, bukan berarti Anda tidak bisa membantu anak makan lebih baik.
Cara Mengatasi Anak yang Sulit Makan karena Faktor Genetik
1. Jangan Dipaksa, Tapi Ajak Makan Bersama
Anak dengan sensitivitas tinggi terhadap rasa atau tekstur sering merasa tertekan saat dipaksa makan. Alih-alih memaksa, ajak anak makan bersama keluarga dalam suasana santai. Biarkan ia melihat Anda menikmati makanan, karena contoh langsung jauh lebih efektif.
2. Beri Porsi Kecil dan Konsisten
Alih-alih memberi satu porsi besar yang membuat anak kewalahan, berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering. Jadikan waktu makan sebagai rutinitas menyenangkan, tanpa tekanan.
Contoh: 3 kali makan utama + 2 kali camilan sehat seperti buah, yogurt, atau biskuit gandum.
3. Sajikan Makanan Beraneka Warna dan Tekstur
Gunakan pendekatan visual. Anak yang sensitif terhadap rasa sering lebih tertarik pada makanan berwarna cerah dan bentuk lucu. Potong buah dalam bentuk bintang, sajikan sayuran dalam bentuk bola-bola, atau buat bekal dengan bentuk kartun.
4. Ajak Anak Memilih dan Menyiapkan Makanan
Berikan anak kontrol kecil dalam memilih makanannya. Ajak ke pasar atau supermarket dan biarkan ia memilih sayur atau buah. Libatkan saat memasak (misalnya mengaduk adonan, memberi topping), sehingga ia lebih antusias mencicipi hasil buatannya sendiri.
5. Gunakan Suplemen Penambah Nafsu Makan Secara Bijak
Jika anak tetap sulit makan, Anda bisa mempertimbangkan suplemen alami yang aman untuk anak, seperti Grotima. Grotima mengandung:
-
Temulawak: Dikenal sebagai herbal penambah nafsu makan yang mendukung fungsi pencernaan
-
Madu: Memberikan energi dan meningkatkan daya tahan tubuh
-
Ikan Gabus: Kaya protein dan albumin untuk mendukung pertumbuhan
-
Gamat Emas: Mendukung regenerasi sel dan memperkuat sistem imun
Formulasi herbal seperti ini dapat menyeimbangkan faktor biologis anak sambil tetap menjaga pendekatan alami.
6. Ciptakan Suasana Makan yang Positif
-
Matikan TV atau gadget saat makan
-
Jadikan waktu makan sebagai momen keluarga
-
Hindari komentar negatif seperti “Kamu harus habiskan” atau “Kamu bikin Mama repot!”
Anak yang merasa stres saat makan cenderung mengembangkan hubungan negatif dengan makanan hingga dewasa.
7. Konsultasikan dengan Ahli Jika Perlu
Jika anak terus mengalami penurunan berat badan, tidak tumbuh sesuai usianya, atau sering sakit, segera konsultasikan ke dokter anak atau ahli gizi. Evaluasi lebih dalam bisa mengidentifikasi masalah metabolik, alergi makanan, atau kekurangan nutrisi kronis.
Apakah Anak Akan Selamanya Sulit Makan?
Tidak. Meski faktor genetik berperan, kebiasaan makan anak masih bisa dibentuk melalui pengalaman berulang yang positif. Otak anak sangat plastis, dan dengan pendekatan yang sabar dan kreatif, mereka bisa belajar menyukai makanan baru seiring waktu.
Ingat, setiap anak unik. Ada yang lahap makan sejak kecil, ada yang butuh waktu lebih lama untuk menyukai berbagai makanan. Yang terpenting, fokuslah pada nutrisi, bukan hanya jumlah.
Kesimpulan
Anak yang sulit makan bisa disebabkan oleh banyak hal, termasuk faktor genetik seperti sensitivitas rasa, cepat kenyang, atau kecenderungan picky eater. Tapi bukan berarti Anda harus menyerah. Dengan pendekatan positif, kreatif, dan dukungan suplemen seperti Grotima, anak tetap bisa tumbuh sehat dan mendapatkan nutrisi yang cukup.

Sebagai orang tua, tugas kita bukan memaksa anak makan lebih banyak, tapi membantu mereka menyukai proses makan dengan nyaman dan bahagia. Libatkan mereka, beri contoh, dan biarkan anak mengeksplorasi dunia makanan sesuai ritmenya.
Grotima, solusi alami bantu anak makan lebih lahap dan tumbuh optimal.
Diperkaya madu, temulawak, ikan gabus, dan gamat emas – kombinasi herbal terpercaya untuk tumbuh kembang anak Indonesia.




