Anak terlambat berjalan seringkali menjadi kekhawatiran utama orangtua, terutama bagi mereka yang ingin memastikan tumbuh kembang buah hati berjalan optimal. Di Indonesia, banyak orangtua yang bertanya-tanya kapan sebenarnya waktu yang wajar anak mulai belajar berjalan, apa saja penyebab terlambat berjalan, dan langkah-langkah pencegahan maupun terapi yang bisa dilakukan di rumah. Artikel ini akan membahas secara komprehensif tema “Anak Terlambat Jalan”, lengkap dengan penjelasan penyebab, tanda-tanda, tips stimulasi, peran nutrisi, hingga bagaimana produk suplemen Grotima dapat mendukung proses tumbuh kembang anak yang mengalami keterlambatan berjalan.

Pengertian dan Batas Normal Waktu Anak Mulai Berjalan
Setiap anak memiliki perkembangan motorik yang unik, namun secara umum, bayi biasanya mulai belajar berjalan antara usia 9 hingga 15 bulan. Ada yang sudah mulai istirahat di usia 9 bulan (biasanya merangkak lalu naik-naik), sebagian lagi baru mulai berani melepaskan pegangan pada ujung usia 12–15 bulan. Berdasarkan penelitian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), rata-rata bayi di Indonesia mulai berjalan dengan stabil pada usia 12–14 bulan. Jika pada usia 18 bulan anak belum juga menunjukkan tanda-tanda mencoba berdiri sendiri atau berjalan dengan bantuan, orangtua perlu berkonsultasi ke dokter anak untuk memastikan tidak ada gangguan tumbuh kembang serius.
Ciri-ciri Anak yang Mulai Belajar Berjalan
- Usia 6–9 Bulan: Mulai duduk tanpa penyangga, belajar merangkak, dan berguling.
- Usia 9–12 Bulan: Sering menarik diri ke posisi berdiri dengan bersandar pada furnitur, belajar melangkah dengan bantuan tangan orangtua atau benda penyangga (cruising).
- Usia 12–15 Bulan: Biasanya sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan, meski masih belum stabil dan kerap terjatuh.
- Usia 15–18 Bulan: Berjalan semakin mantap, mulai bisa berlari lambat, dan mencoba menaiki tangga dengan berpegangan.
Jika anak belum berdiri sama sekali saat di usia 10–12 bulan, atau belum mencoba melangkah meski sudah mampu berdiri pada usia 13–15 bulan, hal ini bisa diindikasikan sebagai keterlambatan perkembangan motorik.
Penyebab Anak Terlambat Berjalan
Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan berjalan. Mengetahui penyebab utama dapat membantu orangtua menentukan langkah intervensi yang tepat. Berikut beberapa faktor umum penyebab anak terlambat berjalan:
- Faktor Genetik dan Keturunan
Riwayat keluarga dengan keterlambatan perkembangan motorik bisa meningkatkan risiko anak mengalami hal yang sama. Namun, faktor ini hanya salah satu penyebab, bukan penentu mutlak. - Kurangnya Stimulasi Motorik Dini
Anak yang jarang mendapatkan kesempatan untuk merangkak atau berlatih berdiri sejak usia dini cenderung mengalami keterlambatan berjalan. Contohnya, terlalu sering ditaruh di baby walker atau mainan yang membatasi gerak bebas membuat otot kaki dan inti tubuh (core muscles) kurang terlatih. - Gangguan Neurologis atau Otak
Beberapa kondisi seperti cerebral palsy, hipotonik (otot lemas), atau cacat perkembangan saraf dapat menghambat koordinasi otot dan keseimbangan, sehingga anak terpental lebih lambat belajar berjalan. - Masalah Otot dan Tulang
Kelainan pada struktur tulang (seperti dysplasia pada pinggul) atau otot (misalnya miopati) dapat menyebabkan anak kesulitan berdiri dan berjalan. Pemeriksaan fisik dan rontgen terkadang diperlukan untuk memastikan kondisi tulang dan otot. - Gizi dan Nutrisi yang Kurang Optimal
Anak yang kekurangan nutrisi penting—seperti protein, kalsium, vitamin D, dan mineral lainnya—bisa mengalami gangguan pertumbuhan tulang dan otot. Anak juga bisa mudah lemas sehingga enggan mencoba berdiri atau berjalan. - Masalah Jantung dan Pernapasan
Anak dengan riwayat penyakit jantung bawaan atau gangguan pernapasan kronis mungkin mudah lelah saat diajak bergerak, sehingga cenderung menghindari aktivitas berdiri dan berjalan. - Obesitas atau Berat Badan Berlebihan
Berat badan yang berlebih membuat anak kesulitan menopang tubuh untuk berdiri dan berjalan. Kelebihan berat badan pada balita dapat menghambat proses perkembangan motorik. - Lingkungan dan Kebiasaan Keluarga
Pola asuh yang terlalu protektif—seperti mengatakan “jangan bergerak sendiri, takut jatuh”—atau lingkungan rumah yang tidak aman untuk eksplorasi (misalnya lantai licin, banyak barang tajam) membuat anak tidak leluasa berlatih berjalan.
Tanda-tanda Anak Terlambat Berjalan
Setelah memahami batasan normal perkembangan motorik, orangtua perlu mengamati beberapa tanda-tanda yang menunjukkan anak mungkin terlambat berjalan:
- Usia 9–10 Bulan: Belum mencoba merangkak sama sekali atau hanya berguling-guling.
- Usia 12 Bulan: Belum bisa berdiri sambil berpegangan pada furnitur atau orangtua.
- Usia 15 Bulan: Tidak ada upaya untuk melepaskan pegangan dan melangkah beberapa kali.
- Usia 18 Bulan: Belum bisa berjalan sendiri, bahkan dengan bantuan minimal.
- Kekakuan atau Kelenturan Berlebihan Otot: Otot terlalu kaku (spastis) atau terlalu lemas, mengganggu kemampuan menahan beban tubuh.
- Kurang Minat Eksplorasi: Anak tampak pasif, kurang semangat mencoba bergerak meski sudah diajak atau diberikan stimulasi.
Jika orangtua menemukan satu atau beberapa tanda di atas, segera lakukan evaluasi dan konsultasikan dengan dokter anak atau terapis fisik (fisioterapis). Semakin awal intervensi, semakin besar peluang anak berkembang lebih optimal.
Pentingnya Nutrisi dan Suplemen untuk Anak Terlambat Berjalan
Gizi yang tercukupi adalah salah satu faktor kunci dalam mendukung perkembangan motorik anak. Untuk anak yang terlambat berjalan, asupan nutrisi yang tepat akan membantu:
- Menguatkan Otot dan Tulang
Protein berkualitas tinggi membantu pembentukan massa otot. Kalsium dan vitamin D memelihara kepadatan tulang, sehingga mendukung proses berdiri dan menopang tubuh. - Meningkatkan Energi dan Daya Tahan Tubuh
Anak membutuhkan energi ekstra saat berlatih berjalan. Karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta vitamin dan mineral pendukung (seperti magnesium, fosfor) berperan dalam produksi energi dan metabolisme sel. - Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Imunitas yang baik membuat anak jarang sakit, sehingga bisa rutin melakukan rangsangan motorik tanpa terkendala demam atau infeksi. Vitamin C, E, dan mineral seperti seng (zinc) berperan penting. - Mendukung Regenerasi Jaringan
Bila ada mikrotrauma pada otot atau sendi akibat latihan berdiri dan berjalan, nutrisi seperti kolagen, asam amino esensial, dan antioksidan membantu proses penyembuhan dan pertumbuhan jaringan baru.
Tips Stimulasi dan Terapi untuk Anak Terlambat Berjalan
Selain memastikan nutrisi tercukupi dengan dukungan suplemen seperti Grotima, stimulasi dan terapi motorik sangat krusial agar anak terbiasa bergerak dan berani berjalan. Berikut beberapa langkah yang bisa orangtua lakukan:
- Rangsang Aktivitas Merangkak Sejak Dini
Biarkan anak cukup waktu bermain di lantai (tummy time) sejak usia 3–6 bulan. Tata mainan sedikit jauh agar ia termotivasi merangkak. Merangkak membantu menguatkan otot inti (core muscles) dan koordinasi tangan-kaki. - Berikan Waktu Bermain Tanpa Alat Bantu Berlebih
Hindari terlalu lama menggunakan baby walker yang membatasi kebebasan gerak. Biarkan anak secara perlahan belajar menyeimbangkan tubuhnya sendiri. - Dorong untuk Berdiri dengan Bantuan
Saat anak sudah bisa merangkak dengan baik, ajak ia untuk memperkuat otot kakinya dengan bantuan meletakkan tangannya pada permukaan yang rendah, seperti kotak mainan kuat atau sofa rendah. Berikan pujian setiap kali ia berhasil berdiri walau hanya beberapa detik. - Latihan Berjalan dengan Pegangan Tangan Orangtua
Sambil memegang kedua tangannya, bantu anak melangkah perlahan. Pastikan lantai tidak licin, gunakan alas karpet tipis agar cengkraman kaki lebih baik. Lakukan beberapa kali sehari, misalnya 5–10 menit setiap sesi. - Manfaatkan Bola Terapi atau Balance Ball
Jika memungkinkan, gunakan bola terapi plastik yang sedang (ukuran ball yoga anak-anak). Letakkan anak di atas bola sambil ia duduk, kemudian goncangkan perlahan untuk melatih keseimbangan. Pastikan selalu dalam pengawasan ketat. - Beri Mainan yang Bisa Didorong
Mainan seperti walker dorong atau kereta dorong plastik khusus anak dapat memotivasi mereka untuk berjalan sambil menahan mainan. Pilih mainan dengan pegangan yang kuat dan stabil, serta tinggi pegangan yang sesuai agar anak tidak membungkuk. - Latihan Peregangan dan Mobilisasi Ringan
Lakukan gerakan sederhana seperti menggerakkan kaki ke depan dan ke belakang, mengayun paha secara lembut, dan latihan menekuk lutut perlahan. Pastikan dilakukan secara lembut agar tidak menimbulkan nyeri pada sendi. - Ciptakan Lingkungan yang Aman dan Menyenangkan
Rapikan furnitur sehingga anak mempunyai ruang gerak yang cukup. Tempel stiker tikar busa di lantai untuk mengurangi risiko benturan saat terjatuh. Sediakan mainan warna-warni yang diletakkan di atas kotak atau meja rendah, sehingga anak termotivasi untuk berdiri dan meraih. - Konsultasi dengan Terapis Fisik atau Ahli Tumbuh Kembang
Jika setelah melakukan stimulasi mandiri anak belum juga menunjukkan perkembangan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan fisioterapis atau dokter spesialis tumbuh kembang anak. Terapi profesional dapat membantu memetakan program latihan khusus sesuai kondisi anak.
Peran Grotima bagi Anak yang Terlambat Berjalan
Grotima adalah suplemen anak berbasis bahan alami (madu, temulawak, ikan gabus, dan gamat emas) yang telah diformulasikan khusus untuk mendukung berbagai aspek kesehatan anak, termasuk memperkuat otot, tulang, dan daya tahan tubuh. Berikut alasan mengapa Grotima cocok untuk anak yang terlambat berjalan:
- Madu
Berfungsi sebagai sumber energi instan dan kaya akan vitamin serta mineral seperti kalsium, magnesium, dan fosfor. Pada anak yang terlambat berjalan, madu membantu meningkatkan stamina otot dan memberikan tenaga ekstra saat belajar berdiri dan berjalan. - Temulawak
Mengandung kurkumin yang terbukti meningkatkan sirkulasi darah ke otot dan sendi. Aliran darah yang lancar memudahkan pengiriman nutrisi dan oksigen, sehingga otot dan tulang lebih optimal dalam berfungsi. Kurkumin juga memiliki sifat anti-inflamasi, membantu meredakan rasa pegal atau nyeri otot saat berlatih. - Ikan Gabus
Sumber protein albumin dan asam amino esensial yang berperan penting dalam regenerasi dan pertumbuhan jaringan otot. Albumin mempercepat pemulihan sel dan jaringan, sehingga otot-otot kaki yang bekerja keras saat belajar berjalan dapat pulih lebih cepat. - Gamat Emas (Teripang Emas)
Mengandung kolagen, asam amino, dan mineral yang mendukung kepadatan dan elastisitas tulang. Otot dan tulang yang kuat dan fleksibel membuat anak lebih mudah berdiri tegak dan menahan beban tubuhnya. Kolagen juga membantu proses pemulihan bila terjadi ketegangan otot ringan.
Dengan kombinasi keempat bahan tersebut, Grotima secara komprehensif memberikan dukungan gizi untuk anak yang terlambat berjalan, khususnya dari sisi penguatan otot, perbaikan jaringan, dan peningkatan daya tahan tubuh. Selain itu, kandungan alami membuatnya aman dikonsumsi sehari-hari sesuai dosis yang dianjurkan.

Manfaat Grotima bagi Anak Terlambat Berjalan
- Meningkatkan Stamina: Madu dalam Grotima membantu anak tidak mudah lelah saat berlatih berdiri dan berjalan.
- Perbaikan Jaringan Otot: Protein albumin dari ikan gabus mempercepat perbaikan otot yang lelah setelah berlatih.
- Penguatan Tulang: Kolagen dan mineral pada gamat emas meningkatkan kepadatan tulang, sehingga kaki lebih kuat menopang tubuh.
- Anti-inflamasi: Kurkumin dari temulawak membantu meredakan ketegangan otot ringan yang biasa terjadi pada anak yang baru belajar berjalan.
Cara Konsumsi Grotima untu Anak Terlambat Jalan
Grotima tersedia dalam bentuk sirup herbal yang mudah dikonsumsi. Untuk bayi dan balita yang belum terbiasa menelan kapsul, bentuk sirup ini sangat praktis. Dosis yang disarankan adalah:
- Anak 6–12 Bulan: 1 sendok takar (5 ml) per hari, dicampur dengan sedikit air hangat atau langsung dikonsumsi.
- Anak 1–3 Tahun: 2 sendok takar (10 ml) per hari, paling baik diberikan setelah makan pagi dan sore.
- Anak 4–5 Tahun: 3 sendok takar (15 ml) per hari, dibagi dua waktu (pagi dan sore).
Kesimpulan dan Rekomendasi
Keterlambatan anak dalam belajar berjalan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai genetik, kurangnya stimulasi motorik, hingga masalah nutrisi. Orangtua diharapkan mengamati tanda-tanda perkembangan motorik anak sejak dini, memberikan rangsangan yang memadai, serta menciptakan lingkungan yang aman untuk eksplorasi gerak. Nutrisi yang seimbang, terutama dukungan suplemen seperti Grotima, dapat mempercepat proses penguatan otot dan tulang, sehingga anak lebih berani mencoba berdiri dan berjalan.
Berikut ringkasan langkah utama yang dapat dilakukan:
- Lakukan stimulasi merangkak dan berdiri sejak bayi berusia 6–9 bulan.
- Hindari keterbatasan gerak akibat penggunaan alat bantu berlebihan (baby walker).
- Latihan berjalan dengan bantuan mulai usia 10–12 bulan.
- Pastikan nutrisi optimal dengan memberikan makanan bergizi seimbang dan suplemen seperti Grotima.
- Ciptakan suasana belajar berjalan yang menyenangkan, penuh dukungan, dan minim tekanan.
- Konsultasikan ke dokter atau terapis fisik apabila pada usia 15–18 bulan belum ada perkembangan signifikan.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan anak yang semula terlambat berjalan akan memperoleh kekuatan, keseimbangan, dan keberanian untuk menjalani proses belajar berjalan dengan lebih lancar. Ingatlah bahwa setiap anak memiliki perjalanan tumbuh kembang yang unik, dan peran orangtua adalah mendampingi dengan penuh kasih sayang, kesabaran, serta dorongan positif.
Pentingnya Memahami Tumbuh Kembang Anak : Panduan Lengkap untuk Orang Tua




